Habis Gelap, Kapan Terangnya?

Opini

Tiga bulan saya habiskan untuk berlibur pulang ke kampung halaman, melepas penat setelah satu semester berkuliah. Selama tiga bulan itu, saya melihat lingkungan sekitar yang banyak berubah dan banyak yang tidak. Atensi dan pikiran saya mulai mencerna setiap peristiwa, mengolahnya, menyimpannya. Dan ada satu “fenomena” yang membuat saya sangat resah, hingga akhirnya saya berani menuliskan ini.

Fenomena ini terlalu horor, terlalu sering kita saksikan, dan terlalu sering kita wajarkan.

Eksploitasi perempuan.

Perempuan zaman sekarang memang tidak lagi diperjualbelikan. Tapi tanpa sadar, eksploitasi itu tidak berhenti, tapi ia hanya berganti wajah.

Perempuan bangun sebelum subuh, menyiapkan sarapan, mengurus anak, membersihkan rumah, lalu pergi ke sawah atau berjualan di pasar. Sore ia pulang, memasak lagi, memandikan anak, menemani suami. Malam ia tidak tidur karena anaknya demam. Dan ketika anaknya itu sakit, yang pertama mereka tanyakan bukan “apa yang terjadi?”  melainkan “ibunya ke mana, kok tidak becus mengurus anak?”

Baca juga: Dari Rawa ke Raksasa Ekonomi: Cerita Tanah Patriot yang Jarang Terungkap

Perempuan mengandung dengan susah teramat payah. Lelahnya bukan main. Sembilan bulan ia menanggung semuanya, lalu meregang nyawa saat melahirkan. Dan saat bayi itu lahir, orang-orang datang mengerubungi si bayi. Bertanya tentang si bayi, senang melihat si bayi. Tidak sedetik pun ada yang memperhatikan sang ibu yang begitu lemah di sana.

Saat menyusui terasa berat, mereka bilang nikmati saja sebagai kodrat perempuan. Ketika rumah berantakan karena lelah, sering dicap tidak becus, bahkan masakan yang kurang sempurna pun cukup untuk membuat mereka mencibir bahwa perempuan itu tidak bisa apa-apa.

Lalu suatu pagi, saya duduk di depan TV menyetel ceramah agama. Lalu sesaat kemudian seorang ibu dengan kerudung ungunya berdiri untuk bertanya. Matanya sayu. Suaranya bergetar.

“Ustadzah, suami saya selingkuh… hati saya sakit. Saya mau cerai tapi saya ragu karena anak saya masih kecil. Bagaimana ini?”

Dalam hati saya mengutuk laki-laki brengsek itu. Tapi yang selanjutnya membuat saya terkejut adalah jawaban sang pembicara.

“Komunikasikan dulu kepada suami. Bisa jadi kamu yang kurang melayani, jadi suamimu berselingkuh.”

Baca juga: [Resensi] Apa yang Tersembunyi di Balik Tragedi Maluku Utara dalam Buku Ini

Kenapa tidak ada empati bagi sang ibu maupun kecaman untuk laki-laki itu? Rasanya pengajian telah menormalisasi perselingkuhan dan menjadikan perempuan sebagai kambing hitam.

Inilah wajah patriarki yang paling berbahaya: bukan yang terang-terangan memukul, melainkan yang tersembunyi di balik kata “kodrat”, “kewajiban”, dan dalil-dalil agama yang mereka potong separuh maknanya.

Tubuh Perempuan sebagai Milik Bersama

Di banyak komunitas, terutama di pedesaan, perempuan tumbuh dengan satu narasi yang sudah tertanam di kepala mereka sejak muda. tugasmu adalah melayani. Melayani orang tua, lalu suami, lalu anak, lalu mertua.

Tidak ada yang mengajari untuk mecintai diri mereka sendiri, mengejar mimpi setinggi mungkin, dan bagaimana cara bahagia.

“Sekolah yang tinggi, kelak kamu mengurus anak.” “Belajar menjadi perempuan yang baik dan cantik, agar banyak yang melamarmu nanti.” “Jadilah wanita yang berkelas, agar dikagumi banyak laki-laki.”

Narasi gila ini tentu tidak datang sendirinya, melainkan ia hadir secara sistematis melalui penafsiran agama yang selektif, adat yang mengakar, dan tekanan sosial yang tak kasat mata namun mematikan. Dan narasi itu menjadi rantai. Rantai yang tidak putus dan dirawat lalu diturunkan dari generasi ke generasi.

Baca juga: Informasi Mudah Tersedia, Masih Perlukah Mengkaji Bacaan?

Banyak orang sering mengutip dalil tentang ketaatan istri kepada suami tanpa konteks, tanpa menyertakan padanan yang mewajibkan suami berlaku adil dan penuh kasih. Sebagian pihak juga kerap menyalahgunakan penafsiran hadis tentang surga di bawah telapak kaki ibu untuk membebani perempuan. Alih-alih sebagai pembebasan, sebagian orang justru memfungsikan agama sebagai rantai yang memperindah penindasan.

Yang lebih tragis: banyak perempuan yang merawat rantai itu sendiri. Bukan karena mereka bodoh atau lemah, melainkan karena bertahun-tahun mereka diajarkan bahwa rantai itu adalah mahkota. Bahwa cinta itu harus berkorban. Bahwa seorang perempuan memang harus seperti ini. Mendahulukan suami, anak, dan orang tua.

Logika Ganda yang Menghancurkan

Perhatikan logika yang bekerja dalam masyarakat kita: ketika anak sakit, ibu disalahkan karena dianggap lalai. Ketika suami sakit, istri wajib merawat karena itu “tugas mulia seorang perempuan”. Namun ketika istri yang sakit? Orang-orang malah bersimpati kepada suami: “Kasihan pak, istrinya sakit, jadi tidak ada yang masak.” Kepada anak-anak: “Kasihan, tidak terurus karena ibunya sakit.”

Seakan perempuan adalah mesin.

Perempuan yang sehat adalah mesin yang berfungsi. Perempuan yang sakit adalah mesin yang rusak dan kerusakannya diukur dari seberapa besar gangguan yang ia sebabkan bagi orang lain.

Dan saat mesin itu sudah mati? Ganti dengan yang baru. Dengan dalih: “Seorang duda memang harus cepat menikah agar ada yang merawatnya.

Baca juga: Makna Ulumul Qur’an dan Ijtihad: Menurut Lensa Sejuk Gus Baha

Suatu sore setelah hujan, saya bertemu seorang ibu yang datang ke warung kelontong yang sedang saya jaga. Di bahunya ada koyo. “Beli apa, Bu?” tanyaku. “Mau beli obat flu,” jawabnya. “Saya sudah sakit dari kemarin. Lelah sekali, urusan rumah saya tanggung semua apalagi kemarin lebaran, banyak memasak.”

“Anak ibu tidak membantu? Atau suami?”

Ibu itu bergeming. “Lelaki mana mau membantu begitu.”

Ia menghela napas. “Makanya saya harus cepat sembuh. Biar rumah ada yang beresin, biar anak bisa saya urusin lagi. Kita orang perempuan memang harus begitu ngurus anak dan suami biar berkah.”

Gila. Kutuk saya, dua kali, dalam hati.

Ini bukan sekadar ketidakadilan. Ini adalah dehumanisasi yang sistematis. Perempuan tidak dilihat sebagai manusia yang juga bisa lelah, sakit, sedih, dan butuh dirawat. Ia dilihat sebagai fungsi: fungsi reproduksi, fungsi domestik, fungsi emosional bagi seluruh keluarga.

Agama sebagai Alat, Bukan Sumber

Perlu ditegaskan: masalahnya bukan pada agama itu sendiri. Dalam Islam, terdapat banyak ayat dan hadis yang memuliakan perempuan, menjamin hak-haknya, dan secara jelas melarang perlakuan semena-mena. Nabi Muhammad SAW sendiri dikenal aktif membantu pekerjaan rumah tangga, sesuatu yang hampir tak pernah dikutip dalam khotbah-khotbah yang sibuk mengatur “kewajiban istri”.

Tidak sekali pun saya mendengar khotbah tentang bagaimana seharusnya laki-laki memuliakan perempuan.

Telinga saya justru bising dengan khotbah-khotbah yang semena-mena: “Kewajiban seorang istri adalah menurut.” “Kewajiban seorang istri adalah melayani suaminya dengan baik.”

Baca juga: Melawan Arus Takfiri: Menjaga Keutuhan Pemahaman Islam yang Moderat

Yang bermasalah adalah penggunaan agama secara selektif oleh struktur kekuasaan patriarkal. Teks-teks yang menguntungkan laki-laki dikutip lengkap dan lantang. Teks-teks yang mewajibkan laki-laki berlaku adil, memberi nafkah lahir dan batin, serta menghormati perempuan selalu diabaikan, atau ditafsirkan sedemikian rupa agar tidak mengganggu privilege yang sudah ada.

Stigma Sosial sebagai Alat Kontrol

Salah satu mekanisme paling efektif dalam melanggengkan penindasan terhadap perempuan adalah stigma sosial. Tidak perlu hukum tertulis. Tidak perlu paksaan fisik. Cukup pastikan bahwa perempuan yang “tidak taat”, “tidak mau melayani”, atau “berani menuntut hak” akan dikucilkan, digosipkan, dan dipermalukan di depan komunitas.

Stigma bekerja paling efektif ketika perempuan sendiri yang menjalankannya terhadap sesama perempuan. Ibu mertua yang menghakimi menantu. Tetangga yang bergosip tentang istri “yang tidak becus”. Saudara perempuan yang menasihati untuk “bersabar dan ikhlas.”

Ini bukan kelemahan perempuan. Ini adalah bukti betapa dalamnya patriarki mengakar: ia tidak membutuhkan laki-laki untuk terus berjalan. Ia sudah cukup direproduksi oleh korban-korbannya sendiri.

Baca juga: Jebakan Biaya Layanan pada PayLater: Sekadar Upah Administrasi atau Riba?
Habis Gelap, Kapan Terangnya?

Setiap tanggal 21 April, kita memperingati Kartini. Kita memakaikan kebaya pada anak-anak perempuan lalu bersama-sama menyanyikan Ibu Kita Kartini. Kita memuji perjuangannya dalam pidato-pidato yang hangat dan meriah.

Lalu keesokan harinya, kita kembali menyalahkan ibu yang anaknya sakit. Kembali melempar perkataan “kasihan suaminya” ketika istri yang terbaring lemah.

Kartini menulis surat-surat yang membakar dari balik tembok pingitan. Lebih dari seratus tahun kemudian, tembok itu tidak hilang tapi ia hanya berganti bahan. Dari batu bata menjadi ekspektasi sosial, menjadi tafsir agama yang dipilih-pilih, menjadi tatapan tetangga yang menghakimi, menjadi kalimat “seorang perempuan yang baik itu harus ikhlas.”

Kita tidak sedang merayakan Kartini. Kita sedang mengkhianatinya.

Yang menyakitkan bukan hanya bahwa penindasan ini masih terjadi. Yang menyakitkan adalah kita sudah tahu bahwa sistem ini tidak adil, perempuan menanggung beban yang tidak proporsional, banyak dalil itu dipotong, dan stigma sosial itu menyakiti perempuan.

Tapi kita hanya diam.

Baca juga: Hakikat Merdeka dalam Sejarah Panjang Umat Manusia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *