Annubala ID – Jika menelisik tentang potensi dalam negeri, lautan masih sering dilupakan. Semua peradaban manusia seolah berpusat pada darat, dan laut hanyalah celah singgah pada beberapa teluk yang ada. Keberadaannya masih dinarasikan menyeramkan karena kedalamannya yang seakan hanya menjanjikan potensi tentang kematian.
Seperti contoh, berbagai tragedi pesawat atau kapal yang tenggelam akan selalu disiarkan menjadi berita utama. Belum lagi soal bencana alam, gempa di lautan yang berpotensi untuk terjadinya tsunami semakin menambah daftar alasan rasa takut terhadap laut. Beberapa kawasan juga masih lekat dengan banyaknya misteri laut itu sendiri.
Melihat sekilas Indonesia pada Google maps, tentu bisa kita pastikan bahwa lautan merupakan aspek yang lebih mendominasi daripada daratan. Dari selat Malaka sampai laut Arafura, keanekaragaman hayati hidup sebagai potensi ekonomi yang nyata.
Keberadaan 3.500 lebih spesies ikan, memiliki 76% spesies dari seluruh terumbu karang yang ada, hingga rumah bagi 6 spesies penyu di dunia. semua angka fantastis ini rasanya layak menjadi tulang punggung ekonomi, dimana laut berpotensi menjadi penyumpang PDB terbesar untuk pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca juga: Kesejahteraan Guru: Persoalan Bangsa yang Dianggap Tabu
Namun masalahnya, apakah semua itu dikelola dengan baik dan bijak? Sejauh ini, segudang masalah klasik masih ada dan seperti tidak ada keseriusan untuk menanganinya. Dimulai dari kerusakan hutan mangrove, illegal fishing, hingga ancaman perubahan iklim yang berkaitan dengan pencemaran di laut.
Parahnya lagi, kompetensi para pemegang tampu pimpinan lembaga yang berhubungan dengan kelautan banyak diragukan kredibilitasnya. Sebagai contoh, keberadaan pagar bambu ilegal sepanjang 30,16 km yang pernah terjadi sejak agustus tahun lalu, ditemukan di perairan Kabupaten Tangerang. Keberadaannya membuat nelayan rugi karena akses menuju laut menjadi terbatas.
Selain persoalan akses, kasus tersebut juga menyebabkan kerugian material untuk nelayak seperti kerusakan jaring dan kapal mengalami kebocoran. Sialnya, semua di bangun secara misterius tanpa diketahui pembuatnya. Hal ini membuat masyarakat mempertanyakan tentang kepastian hukum untuk mereka yang menyambung hidup dari potensi yang ada di laut.
Selain persoalan disekitaran area pusat ibukota, berbagai masalah laut di area perbatasan negara juga menjadi persoalan krusial yang tidak bisa dianggap remeh. Khususnya dengan Singapura atau Malaysia, area tersebut sungguh perlu diberikan pengawasan yang ketat. Sebagai contoh historis, pulau Sipadan dan Ligitan dinyatakan sebagai milik Malaysia melalui putusan Mahkamah Internasional pada tahun 2002, menyusul sengketa yang sudah ada dari tahun 1969.
Baca juga: TikTok & Instagram: Jejak Industri Budaya di Era Digital
Sebagai negeri archipelago, sudah selayaknya arena lautan menjadi fokus utama untuk kemajuan ekonomi Indonesia. Misteri lautan yang masih banyak di berbagai titik seharusnya tidak terlalu dipandang dengan logika mistika. Semua itu merupakan potensi yang bisa dikaji secara ilmiah. Karena selain untuk sumber penghasilan negara, kajian ilmiah akan mampu membawa masyarakat menjadi lebih bijak dalam bernalar tentang potensi negaranya sendiri.
Lebih jauh lagi, setiap potensi yang sudah terpublikasi dalam bentuk karya ilmiah bisa jadi pembuka peluang baru. Hal ini mampu meningkatkan minat pengusaha, investor, dan tenaga kerja, mampu mengoptimalkan potensi lautan yang sudah terkaji secara baik.
Pada hakikatnya, kita perlu menyadari bahwa laut merupakan satu dari sekian identitas Indonesia yang mulai terlupakan. Lirik lagu yang berbunyi “nenek moyangku seorang pelaut,” merupakan simbol yang perlu direnungi, bahwa leluhur kita merupakan para penakluk lautan yang handal.
Sejarah tersebut sudah selayaknya kembali bergaung dalam Indonesia yang sedang bersaing dalam dunia yang semakin modern. Hal ini bukan soal ekonomi semata, namun tentang pentingnya melahirkan peluang dari potensi yang besarnya sudah ada dalam fakta yang tidak bisa dibantahkan.
Baca juga: 3 Fakta Menarik Kerajaan Maroko yang Jarang Diketahui
Penulis: Adam Nazar Yasin, Penulis Aktif Annubala ID.

