[Resensi] Apa yang Tersembunyi di Balik Tragedi Maluku Utara dalam Buku Ini

Pojok Literasi Resensi Sastra Uncategorized

Buku ini memaparkan laporan jurnalistik tentang konflik di Maluku Utara karya Linda Chirtanty, salah satu kekerasan paling mematikan di era reformasi Indonesia, yang mana banyak pihak sering menyederhanakannya sebagai ‘konflik agama’ antara Muslim dan Kristen. Tapi Linda tidak datang dengan kesimpulan yang  sudah jadi. Ia hadir dengan menelusuri akar persoalan dari masa pra-konflik, konfrontasi,  krisis, akibat, hingga pasca-konflik. Dan yang paling penting, ia memberi ruang bicara kepada  mereka yang paling jarang didengar: para penyintas. 

Di sinilah buku ini mulai terasa berbeda. 

Dalam jurnalisme, ada prinsip yang nyaris sakral: cover both sides. Liput semua pihak,  beri porsi yang sama, jangan memihak. Tapi Linda dengan sadar memilih untuk menempatkan  penyintas mereka yang kehilangan rumah, desa, keluarga, dan masa depan sebagai pusat cerita.  Apakah ini melanggar etika? 

Baca juga: Informasi Mudah Tersedia, Masih Perlukah Mengkaji Bacaan?

Ini adalah konflik etika pertama yang menarik untuk dicermati dalam buku ini.  Keberpihakan Linda bukan karena ia abai pada objektivitas, melainkan karena ia sadar bahwa  selama ini narasi konflik Maluku Utara sudah terlalu lama dikuasai oleh sudut pandang lain.  Pemerintah, militer, atau analisis dari luar yang tidak pernah benar-benar turun ke lapangan. 

Konflik etika kedua muncul ketika Linda meliput kisah-kisah traumatis dari para  penyintas. Menggali luka orang lain demi kepentingan publik selalu menyimpan dilema moral: Apakah wawancara ini membantu mereka berbicara, atau justru memaksa mereka mengingat  kembali hal yang ingin mereka lupakan? Buku ini tidak secara eksplisit menjawab pertanyaan  itu, tapi pertanyaan tersebut tetap menggantung di setiap halaman menyisakan pertanyaan  untuk kita renungkan. 

Jurnalisme dalam buku ini berfungsi sebagai alat untuk menarik kesadaran akan  pentingnya menjaga perdamaian, demi terciptanya masyarakat yang lebih adil dan harmonis.  Ini adalah nilai kepentingan publik yang paling murni: yaitu bukan mengejar berita yang  sensasional, tapi mengejar kebenaran yang bermanfaat. 

Baca juga: Media Sosial dan Kelelahan Mental: Saat Teknologi Mengendalikan Kita

Yang paling menonjol adalah keberanian mengungkap fakta lapangan. Linda tidak  berhenti pada narasi “konflik agama” yang sudah terlanjur menjadi penjelasan instan di kepala  banyak orang. Ia menelusuri dari awal, bahkan sangat awal. 

Pada awal bab, penulis menuntun kita menelusuri sejarah Jailolo, Maluku Utara, Halmahera, serta kesultanan adat dan desa-desa di Jailolo. Setelah itu kita akan pelan-pelan memahami bahwa persoalan bermula dari sengketa tanah adat antara masyarakat  Kao dan kelompok Makian.

Konfliknya  ternyata rumit, rumit sekali. Bukan sekadar label konflik agama, tapi ada adat yang  dipertahankan, harga diri, moral, dan juga kepunahan sebuah bahasa. 

Baca juga: Media Sosial dan Hiperrealitas: Ketika yang Palsu Terasa Lebih Nyata

Buku ini begitu mengalir untuk dibaca, mengingat bahwa Linda juga dikenal sebagai  praktisi jurnalisme sastrawi, ia menggunakan teknik bertutur fiksi dengan bahan fakta dan  peristiwa. Ini sangat terasa bahwa tulisannya mengalir seperti cerita, dengan karakter yang  terasa hidup, suasana yang terbangun pelan-pelan, dan ketegangan emosional yang benar-benar  terasa. Ini memberikan pengalaman pembaca seperti hadir di tengah suasana, bukan sekadar  membaca sebuah laporan jurnalistik. 

Tapi tentu, Linda menjaga secara ketat bahwa teknik naratifnya untuk tidak pernah  mengorbankan fakta untuk kepentingan dramatisasi. Gaya bercerita bisa indah, tapi tidak boleh  bohong. 

Praktik ini sangat realistis dan sangat relevan justru karena susah dilakukan. Banyak  wartawan bisa menulis dengan dramatis, banyak yang bisa menulis dengan akurat, tapi sangat  sedikit yang bisa melakukan keduanya sekaligus.

Baca juga: Hakikat Merdeka dalam Sejarah Panjang Umat Manusia

Judul buku ini menurut saya sangat tajam, yaitu membuat kesan pernyataan sikap untuk  tidak mempercayai surat palsu. Karena sebagaimana yang diketahui di era media sosial, surat  palsu, foto hoaks, dan narasi yang dimanipulasi adalah senjata ampuh untuk menyulut konflik.  Konflik Maluku Utara sendiri juga akibat ada surat palsu saat itu. Maka dari itu judul ini tentu  sangat relevan agar kita dapat memiliki kesadaran, akan informasi yang tersebar. 

Jurnalisme sastrawi yang Linda praktikan memungkinkan pembaca untuk melihat  persoalan secara utuh. Membaca buku ini terasa ringan dan mengalir, namun di dalamnya  tersimpan bobot persoalan yang sesungguhnya. 

Jangan Percaya Surat Palsu buku yang saya rekomendasikan untuk yang ingin  membaca laporan jurnalistik, dengan perasaan seperti membaca novel. Bukan karena isinya  mengejutkan tapi karena ia mengingatkan kita bahwa di balik setiap konflik yang  disederhanakan, ada masyarakat yang hidupnya jauh lebih kompleks dari yang kita lihat di layar kaca.

Linda Christanty membuktikan bahwa jurnalisme yang baik bukan hanya soal  kecepatan atau jangkauan. Melainkan tentang keberanian untuk hadir, kesabaran untuk  mendengar, dan kejujuran untuk menulis apa yang sebenarnya terjadi.

Baca juga: [Resensi] Sains “Religius” Agama “Saintifik” karya Duo Pemikir Hebat

Spesifikasi Buku:

Judul: Jangan Percaya Surat Palsu

Penulis: Linda Christanty 

Penerbit: Tanda Baca 

Jumlah halaman: 254  

Tahun terbit: 2024 

Harga beli: Rp 88.000  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *