Kapal VOC

Sejarah yang Tertutup Selama 350 Tahun Penjajahan Belanda

Kisah Opini

Annubala ID – Siapa yang tak tahu sejarah penjajahan Belanda? Sejarah yang selalu diceritakan melalui buku, film, bahkan pentas teater sebagai pengingat perjuangan bangsa. Namun, siapa sangka ada narasi yang berbeda dari apa yang selama ini kita yakini?

Apakah benar Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun? Apakah angka tersebut fakta atau hanya mitos yang sengaja dibuat? Melalui artikel ini, kita akan mengupas tuntas sejarah yang selama ini tertutup.

Kita sering mendengar naras-narasi sejarah tentang kedatangan Belanda di Indonesia pada akhir abad ke-16.  Namun, penting untuk dicatat bahwa pada saat itu, Belanda datang bukan sebagai pemerintah kolonial, melainkan sebagai kongsi dagang ambisius. Pada 1596 M, armada Belanda pertama tiba di Banten, dengan tujuan utama mencari rempah-rempah.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 20 Maret 1602 M, Belanda mendirikan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), sebuah perusahaan monopoli yang diberi kekuasaan sangat besar oleh pemerintah Belanda. Termasuk hak untuk memiliki angkatan perang dan membuat perjanjian.

Hingga 1799 M (saat VOC bangkrut), kekuasaan di Nusantara sebagian besar berada di tangan sebuah perusahaan swasta. Hal ini menunjukkan bahwa penjajahan politik yang sistematis belum sepenuhnya terjadi, melainkan hanya eksploitasi ekonomi.

Kekuasaan VOC yang begitu besar tidak abadi. Korupsi dan hutang yang melilit membuat perusahaan ini bangkrut. Akhirnya, pada 31 Desember 1799, VOC secara resmi dibubarkan.

Baca juga: [Resensi] Dan Janda Itu Ibuku

Dengan bangkrutnya VOC, semua aset dan wilayah kekuasaannya di Nusantara diambil alih sepenuhnya oleh pemerintah Kerajaan Belanda. Momen ini adalah titik balik penting dalam sejarah. Pada Tahun 1800, Nusantara tidak lagi dikelola oleh perusahaan swasta, melainkan langsung berada di bawah kendali pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Sejak saat itulah, penjajahan politik yang sistematis dan terorganisir dimulai. Namun, bahkan di masa ini, kekuasaan Belanda tidak mencakup seluruh wilayah Indonesia. Banyak daerah, seperti Aceh, Bali, atau Papua, baru bisa “dikuasai” Belanda pada awal abad ke-20 setelah perlawanan sengit.

Jika kita merujuk pada tahun 1800 M sebagai awal mula pemerintahan kolonial, maka kapan masa penjajahan ini berakhir? Jawabannya adalah pada tanggal 8 Maret 1942. Saat pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada pasukan Jepang di Kalijati, Subang. Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan Belanda dan dimulainya pendudukan Jepang selama sekitar 3,5 tahun, hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Perlu diingat juga, setelah kekalahan Jepang, Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia. Hal ini memicu Agresi Militer Belanda I (1947) dan II (1948). Masa perjuangan ini baru berakhir setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 27 Desember 1949, di mana Belanda secara resmi mengakui kedaulatan Indonesia.

Jika kita menghitung masa kekuasaan kolonial yang tak terputus (1800 hingga 1942), durasinya memang sekitar 142 tahun. Ditambah masa Agresi Militer (1945-1949), total masa kekuasaan de facto Belanda di Indonesia adalah sekitar 146 tahun. Jika faktanya demikian, mengapa narasi 350 tahun penjajahan Belanda begitu mengakar dalam ingatan kolektif kita?

Baca juga: Mitos Drakula dalam Kacamata Islam

Angka ini disebarkan secara masif pada era Orde Baru oleh pemerintah. Tujuannya adalah untuk membangun semangat nasionalisme dan persatuan di kalangan rakyat Indonesia. Angka fantastis 350 tahun dianggap efektif untuk menunjukkan betapa beratnya penderitaan bangsa, sehingga menciptakan rasa senasib sepenanggungan.

Selain itu, narasi ini adalah penyederhanaan yang sangat efektif untuk membandingkan masa kekuasaan Belanda yang panjang dengan masa penjajahan Jepang yang singkat. Dengan cara ini, sejarah menjadi lebih mudah dicerna oleh masyarakat awam. Akibatnya, narasi 350 tahun terlanjur menjadi bagian dari identitas nasional dan narasi perjuangan bangsa, membuatnya sulit untuk diluruskan.

Pada akhirnya, angka 350 tahun bukanlah fakta sejarah, melainkan sebuah narasi yang disederhanakan untuk membakar semangat perjuangan. Kenyataannya, sejarah penjajahan Belanda jauh lebih kompleks. Dengan memahami fakta ini, kita tidak mengurangi kebesaran perjuangan para pahlawan. Justru sebaliknya, kita menguatkan jati diri bangsa dengan melihat sejarah secara utuh dan jujur.

Sejarah yang utuh mengajarkan kita untuk tidak hanya mengingat penderitaan, tetapi juga melihat bagaimana bangsa ini berjuang di setiap fase, baik melawan perusahaan dagang, pemerintahan kolonial, hingga agresi militer, hingga akhirnya meraih kedaulatan penuh.

Referensi

  • Geyl, P. (1961). The Dutch Colonial Empire 1600-1800. Harper & Row.
  • van Dijk, T. B. H. O. (2003). Indonesia: A History. Allen & Unwin.
  • Legge, J. D. (1972). The Indonesian Revolution and the American Response. University of California Press.
  • Stockwell, A. J. (2001). Colonialism and Nationalism in Southeast Asia. Oxford University Press.
  • van Dijk, J. C. (2005). The Rise and Fall of the Dutch Colonial Empire. Routledge.
  • Cribb, R. (1995). The Indonesian National Revolution, 1945-1950. University of Queensland Press.
  • Hoek, A.-L. (2015). The Legacy of Dutch Colonialism in Indonesia. Brill.
  • Boxer, C. R. (1965). The Dutch East India Company: A History of the World’s First Multinational Corporation. Harcourt.

Penulis: Taty Arifa Niswa Fauziyah (Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara-Universitas Terbuka Jakarta, Penulis Annubala)
Email: tatyarifa25@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *