Annubala ID – Kita tentu sudah tahu bahwa sekarang kita telah hidup di era digital dan informasi yang sudah sangat maju. Semakin banyak berita, semakin cepat komunikasi, semakin luas koneksi. Semuanya tampak seperti tanda dunia yang semakin “terbuka”. Namun, ada sesuatu yang janggal: di tengah banjir informasi, justru sekarang kita semakin sulit membedakan mana yang benar-benar nyata dan mana yang sekadar tampak nyata.
Bahkan banyak sekali video AI yang seringkali menggabungkan antara benda dan makhluk hidup, absurd, keluar dari standar, dan tidak jelas. Tapi anehnya, kita mulai menyukainya.
Menariknya, fenomena ini ternyata sudah lebih dulu diprediksikan puluhan tahun lalu oleh filsuf Prancis, Jean Baudrillard.
Baca juga: [Part 1] Titik Balik Kebangkitan Syiah: Meninjau Kembali Sejarah yang Kelam
Baudrillard memperkenalkan konsep simulacra: tiruan yang sudah tidak lagi merujuk pada aslinya. Dalam dunia yang dipenuhi media dan teknologi, menurutnya, representasi tidak lagi sekadar mencerminkan realitas, tetapi justru menggantikannya.
Media sosial adalah contoh paling gamblang. Kehidupan yang tampil di layar bukanlah kehidupan itu sendiri, melainkan hasil kurasi: momen terbaik, ekspresi paling menarik, citra yang sudah dipoles. Ironisnya, justru representasi inilah yang kemudian banyak orang jadikan tolok ukur realitas.
Baudrillard menyebut kondisi ini hiperrealitas ketika yang palsu tidak lagi sekadar meniru yang nyata, tetapi menjadi lebih meyakinkan daripada kenyataan itu sendiri.
Contohnya terlihat dalam standar kecantikan yang beredar di media sosial. Banyak orang merasa tubuh mereka “kurang” karena membandingkan diri dengan foto yang telah diedit berlapis filter. Standar yang mereka kejar itu bahkan tidak benar-benar ada di dunia nyata namun mereka kadang menjadikan itu standar bagi kehidupan mereka.
Baca Juga: Pembatasan Sosial dan Kesejahteraan Perempuan di Sektor Informal
Lebih jauh, Baudrillard berpendapat bahwa media bukan lagi sekadar alat penyampai informasi. Media telah menjadi model ia tidak hanya menggambarkan realitas, tetapi turut menentukan seperti apa realitas itu seharusnya terlihat.
Hal ini semakin relevan di era algoritma. Tanpa kita sadari, konten yang muncul di beranda seseorang tidak dipilih oleh penggunanya sendiri, melainkan sistem otomatis yang telah menentukan berdasarkan perilaku digital mereka. Kita merasa bebas memilih, padahal sedang diarahkan oleh sistem.
Baca juga: [Download] Buku “Kebenaran yang Hilang”, Mengapa Buku Ini Wajib Anda Baca?
Baudrillard juga mengkritik apa yang ia sebut sebagai obsesi terhadap komunikasi demi komunikasi itu sendiri. Informasi disebarkan bukan karena nilainya, melainkan karena potensinya untuk viral. Berita menyebar lebih cepat daripada verifikasinya. Diskusi publik berubah menjadi ajang reaksi cepat, bukan pemahaman mendalam.
Yang dinilai bukan lagi kedalaman pesan, melainkan seberapa banyak ia dilihat, disukai, dan dibagikan.
Di tengah semua ini, identitas pun ikut terdampak. Banyak orang kini membangun citra diri di media sosial. Versi yang lebih rapi, lebih menarik, dan lebih mudah diterima publik. Pada titik tertentu, batas antara diri yang asli dan diri yang ditampilkan menjadi semakin sulit dibedakan. Maka tidak heran banyak orang di zaman sekarang yang kehilangan dirinya sendiri.
Baudrillard tidak menawarkan solusi instan. Namun pemikirannya mengajak kita pada satu hal mendasar: kesadaran. Dan di tengah dunia yang semakin penuh citra dan banjir informasi, mungkin langkah paling penting justru yang paling sederhana: Mulai bertanya dengan apa yang kita lihat di media sosial.
Baca juga: 4 Faktor Salat Tarawih Lebih Ramai daripada Salat Fardu

Penulis Annubala ID | Minat Kajian Sastra, Resensi, Opini.


Semangat terus
Terimakasih kak Shakila. Semangat kembali